Kreativitas Warga Binaan Lapas Pasuruan

 
Miniatur kapal, salah satu hasil kreativitas warga binaan Lapas Pasuruan

Batara Pasuruan - Kondisi di balik jeruji besi tidak menghentikan kreativitas warga binaan yang mendekam di Lapas IIB Pasuruan. Dengan situasi dan kondisi yang penuh keterbatasan, mereka mampu membuat beraneka ragam barang atau miniatur unik dari bahan bekas.


Sekitar 10 warga binaan berada di dalam bungker yang ada di sisi belakang area Lapas. Mereka tampak sibuk dengan urusan masing-masing. Khoirul Wahyudi, 38, misalnya, yang sedang sibuk merakit miniatur kapal dari bambu yang telah dibentuk pipih. Bagi Khoirul, miniatur semacam itu sudah bukan lagi hal yang asing. Sebab, selama ini ia kerap membuat miniatur itu di rumahnya, di Panggungrejo, Kota Pasuruan. Bukan untuk dijual, melainkan dikoleksi.

Rakitan kapal yang telah diselesaikan Khoirul kemudian ditangani oleh Rido, 26. Bisa disebut, Rido masih belum lihai dalam membuat miniatur. Dibandingkan teman-temannya yang lain, ia baru seminggu bergabung masuk dalam bungker. Karena itu, Rido tak banyak melakukan pekerjaan rumit. “Kalau merakit sudah bisa. Sekarang diminta untuk menggosok hasil rakitan agar lebih halus,” katanya. Namun, Rido mengaku kesulitan untuk merakit miniatur yang terbilang rumit. Maklum, ia harus memperhatikan komponennya secara detail.

Beragam miniatur telah diciptakan warga binaan itu. Mulai dari kapal, motor, kereta api, angkringan, joglo, dan lainnya. Biasanya, warga binaan yang akan merakit miniatur meminta petugas mencarikan gambar untuk dijadikan contoh. “Setelah itu di-print, kami imajinasikan dalam bentuk miniatur,” kata Khoirul. Semua itu dijual. Petugas Lapas IIB nyambi memasarkan produk buatan narapidana itu. Bicara harga, Kasi Binadik dan Giatja Anggre Anandayu mengaku, hal itu bukan soal utama. Yang terpenting, bagi dia, yaitu pembinaan yang berlangsung terhadap seluruh warga binaan.
“Kalau harga, tidak dipatok. Hanya untuk mengembalikan modal saja sudah cukup. Karena hasil penjualan itu juga kan dirupakan premi untuk warga binaan,” kata Anggre.

Selain Khoirul dan Rido, ada sosok yang tak asing. Dia adalah Didik Rame DW, terpidana kasus korupsi traffic light Dinas Perhubungan Kota Pasuruan. Berbeda dengan warga binaan lainnya, Didik Rame pun berkreasi sendiri. Ia banyak menciptakan barang-barang kecil. Seperti gelang dan bungkus korek. Hanya saja, bahan yang digunakan berasal dari kulit telur. Ia mengaku hal itu mulanya hanya iseng belaka. “Saya lihat banyak kulit telur yang dihasilkan dari dapur, kebetulan di depan kamar saya itu banyak teman-teman yang membuat patung dari bahan kertas yang dicampur dengan lem,” ujarnya. Didik pun berinisiatif membuat adonan yang kerap dibuat teman-temannya itu. Hanya, ia mengganti komposisi kertas dengan kulit telur dari sampah dapur. Kulit telur yang berserakan dikumpulkan, lalu ditumbuk hingga berbentuk kecil-kecil. Tumbukan kulit telur itu dicampur dengan lem dan cairan cat. “Saya minta cat dari teman-teman yang sedang ngecat lapangan, setetes dua tetes,” katanya. Selepas adonan siap, Didik belum terbersit akan dijadikan apa adonan itu. Satu-satunya benda yang dipegang saat itu yaitu korek api. “Namanya juga iseng, yang saya pegang waktu itu korek api, jadi saya oles-oleskan di korek itu. Maksudnya, nanti kalau kering bisa jadi bungkus korek,” ungkap dia.

Didik pun tak setengah-setengah dalam berkreasi. Ia lalu mencari lilitan tembaga bekas kabel yang tak terpakai. Lantas ditempelkan ke adonan kulit telur. “Setelah kering, kemudian saya lapisi lem agar mengkilap,” ujarnya. Keisengan Didik itu berlanjut. Ia tak hanya membuat bungkus korek, melainkan juga gelang. Bahannya pun dari kulit telur. Bahkan, ia mengaku, istrinya ketika berkunjung kerap meminta gelang buatan Didik untuk dibawa pulang.

Pernah suatu ketika, istri Didik mengirimkan bungkus korek itu untuk keponakannya di Jakarta. “Yang saya kirim saat itu cuma dua. Kemudian mereka protes, katanya keponakannya ada 7 kok yang dikirim cuma dua,” kelakar Didik. Didik pun menuruti permintaan keponakannya itu. Tidak sedikit pula warga binaan, teman Didik di dalam Lapas tertarik dengan bungkus korek ataupun gelang buatan Didik. Selama berada di dalam Lapas, memang tak diperkenankan transaksi dengan menggunakan uang. Yang berlaku ialah barter.

“Pernah juga ada teman yang ngajak barter, gimana Pak Didik saya tukar rokok sebungkus ya,” kata Didik menirukan ucapan temannya. Namun, Didik menolak. “Kalaupun ada teman yang ingin barter, saya ajari mereka membuat sendiri,” ungkap dia.Alasannya, Didik tak ingin mencari keuntungan dari kreasinya itu. Ia hanya ingin mengisi waktu luang selama menjalani hukuman. Setiap hari ia hanya menghasilkan satu barang meski dirinya mampu membuat lebih banyak.“Karena saya menikmati. Tiap hari memang membuat satu barang. Biar besok saya bisa membuat lagi. Untuk membunuh waktu saya selama di sini,” tandasnya.

Hasil kreasi warga binaan diharapkan dapat dijadikan ajang promosisekaligus mengirimkan pesan bahwa menjadi napi bukanlah halangan untuk dapat menumbuhkan keahlian, sehingga ketika bebas suatu hari nanti, mereka tak akan terjerumus ke jalan hidup yang salah. (SL)


Posting Komentar

0 Komentar