Penderita Kusta di Pasuruan Masih Ratusan

Ilustrasi
Batara Pasuruan – Wilayah Kabupaten Pasuruan belum sepenuhnya bebas dari penyakit kusta. Karena meski ada penurunan penderita kusta, namun masih ada yang mengidap penyakit tersebut. Kusta, yang juga dikenal dengan nama lepra atau penyakit Hansen, adalah penyakit yang menyerang kulit, sistem saraf perifer, selaput lendir pada saluran pernapasan atas, serta mata. Kusta bisa menyebabkan luka pada kulit, kerusakan saraf, melemahnya otot, dan mati rasa. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Bakteri ini memerlukan waktu 6 bulan hingga 40 tahun untuk berkembang di dalam tubuh. Tanda dan gejala kusta bisa saja muncul 1 hingga 20 tahun setelah bakteri menginfeksi tubuh penderita.

Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit di Dinkes Kabupaten Pasuruan, Agus Eko Iswahyudi menguraikan, jumlah penderita kusta di Kabupaten Pasuruan memang menyusut. Penyusutan itu tak lepas dari upaya Pemkab mengeliminasi penderita kusta. Karena dengan mengeliminasi penderita kusta, juga menekan penyebaran dan penularan penyakit tersebut. “Ada beberapa program yang kami jalankan agar eliminasi kusta ini terlaksana,” kata Agus

Sebenarnya kusta adalah penyakit yang dapat diobati, namun adanya stigma negatif di masyarakat seringkali menyebabkan munculnya diskriminasi terhadap penderitanya. Stigma negatif dan diskriminasi ini berakibat kepada penemuan kasus baru dan pengobatan yang tertunda.

Selain menggalakkan program gerakan masyarakat sehat sadar lingkungan, juga menggiatkan screening ke sekolah-sekolah dan masyarakat. Agar bila ada temuan, segera ditangani dan tak sampai menularkan ke yang lain. Menurut Agus, jumlah penderita kusta tahun 2015 mencapai lebih dari 600 orang. Jumlah itu akhirnya bisa ditekan hingga lebih dari 50 persen. Saat ini, tersisa 160 orang yang menderita kusta. “Dengan jumlah tersebut, Kabupaten Pasuruan bisa mencapai eliminasi kusta. Karena angka prevalensinya, kurang dari 1 per 10 ribu penduduk. Angka prevalensi kusta untuk Kabupaten Pasuruan hanya 0,98,” sambungnya.

Hal tersebut, kata Eko, tak lain hasil dari upaya yang dilakukan. Selain penemuan dini agar penanganan dini bisa dilakukan, juga perawatan intensif bagi yang menderita kusta. Maklum, penyembuhan kusta memang membutuhkan waktu yang tak sebentar. Bisa mencapai enam bulan hingga dua tahun. “Penyakit yang disebabkan mycobacterium leprae ini, terbilang berbahaya, karena bisa membuat penderita seolah mati rasa. Dan, untuk penanganannya, butuh kesabaran karena memakan waktu tak sebentar,” pungkasnya. (SL)

Posting Komentar

0 Komentar