Petani Mangga Alpukat Gagal Panen


Batara Pasuruan - Guna meningkatkan hasil produksi,  program teknologi pertanian pembungaan awal atau biasa disebut sebagai Early Flowering Technology (EFT) mangga klonal 21 atau mangga alpukat di Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan mengalami kegagalan.

Salah satu petani mangga asal Oro-Oro Ombo Wetan, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan Riyan mengatakan, harusnya saat ini ia dan petani lain bisa memanen mangga dalam program EFT tersebut. Namun, angan-angan panen ini digagalkan oleh kondisi alam yang berada dalam musim hujan.  

Sebenarnya, panen raya mangga itu biasanya di bulan Desember dan terakhir Desember 2018 lalu. Proses EFT ini memaksa mangga bisa berbuah dengan cepat dalam kurun waktu 4 bulan pasca musim panen raya. Pada bulan Mei ini mangga di Kabupaten Pasuruan, diprediksi bisa dipanen secara perdana dalam program ini. Namun, mangga tidak bisa dipanen dan banyak petani merugi.  


"Kondisi mangga rusak akibat hujan, buah mangga yang mulai membesar mengalami pecah dan busuk, lalu rontok karena tekanan air hujan. Jadinya seluruh petani tidak bisa menikmati panen mangga pada bulan Mei ini, "kata Riyan. 

Gagalnya panen mangga proses EFT ini tentu saja merugikan para petani. Bayangkan saja, untuk melakukan program percepatan buah (EFT), dalam hitungan 200 batang mangga, petani harus mengeluarkan dana sekitar Rp. 6 juta. "Karena panen gagal, otomatis modal tidak balik, terpaksa kita memprogram lagi untuk panen Agustus mendatang," ujar Ryan. 

Program percepatan pembuahan ini memang cukup mampu menjadikan petani mangga di Kabupaten Pasuruan meraup untung besar. Sebab progam pembuahan yang mampu memaksa pohon berbuah dalam kurun waktu 4 bulan sekali. Selain itu, harga jual mangga juga dipatok tinggi dengan kisaran Rp 30 ribu hingga Rp 35 ribu per kilogramnya.

"Jika musim hujan terus terjadi, tentu saja program percepatan pembuahan tak lagi bisa kita harapkan. Satu-satunya harapan kami adalah panen raya yang jatuh pada bulan Desember mendatang. Akan tetapi saat itu keuntungan yang kami dapat tentu tidak maksimal, karena saat panen raya, harga mangga pasti murah, "ungkap Riyan.

Hj. Sulia petani mangga lainnya juga mengatakan hal yang sama. Ia mengaku mengalami kerugian. Impian untuk bisa memanen mangga lebih cepat pupus akibat hujan yang berkepanjangan. Padahal, mangga alpukat miliknya sudah dipesan oleh pembeli dari Jakarta, Bandung dan Kota lainnya. "Ya kami kehilangan kepercayaan dari pembeli. Sudah rugi, kami juga disalahkan. Penyebabnya ya hujan. Saya tidak bisa panen sama sekali. Buahnya sangat jelek dan tidak bagus untuk dijual. Kalau dipaksakan, bisa merusak pasaran mangga alpukat ini sendiri," jelasnya.

Sekadar diketahui, Teknologi EFT ini adalah teknologi yang dilakukan agar petani meraup untung besar. Caranya, pemakaian bertahap penggunaan Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) dengan bahan aktif paclobutrazol dengan cara budidaya yang baik serta pengendalian hama penyakit. Jika berhasil, petani bisa untung karena setahun bisa panene tiga kali. (SL)




 




Posting Komentar

0 Komentar